Selasa, 23 Juli 2013

Dia Tak Pernah Kehilangan Cintanya

DIA TAK PERNAH KEHILANGAN CINTANYA
Cinta itu tetap menjadi miliknya
     (Kumpulan sajak: Astaman Hasibuan) 

Menambat janji

Dibelukar ditepi sungai, menghayun parang. 
Menebas.
Membuka jalan setapak, kearah sebatang tebangan pohon berombang. Laki-laki itu, sudah berjanji dan harus menepati.
Akan menghanyutkannya kehilir menunggu air pasang.

Meski seberat apapun, mengingkarinya sama 
dengan mengkhianati

Labuhan Deli, Agustus 1966

Di hari-hari petaka itu terjadi 

Ayah, ibu terapung di alir sungai
bersama putranya, terikat di setagen ibu.
Menepi, ketepi di sungai Bilah.
Didorong  hanyut dengan buluh, ketengah arus. 
Hanyut kehilir.

L. Batu, 1966.

Mahkamah 

Dari gedung Wisma Prajurit, arah utara lapangan Merdeka
Terdengar, pengeras suara, mengumumkan. Bahwa, 
persidangan Mahkamah akan dimulai. Semua yang hadir serentak berdiri, dan duduk kembali.
Hakim pun mengetuk palu, pertanda gelar sidang Mahkamah dibuka  

Hari itu seorang sipil diadili, Mahkamah Militer Luar Biasa. Mahkamah bagi pelanggar Undang-undang Darurat Perang. 

Laki-laki itu mencoba menyeberang mendekat jalan kearah Wisma, letak persidangan Mahkamah.  
Terhalang, puluhan pengawal bersenjata, berlaras panjang dengan sangkur terhunus. 

Akhirnya dia memilih duduk  dibawah rindang pohon Sena. 
Membelakang. 
Menyandar. Mendengarkan gelar sidang.
Dan menyimak.

Ketika Hakim memerintahkan menghadirkan saksi. Seseorang dipanggil dengan namanya. Dan nama saksi itu, nama ayahnya. 

Yang bertanggung jawab menghadirkan saksi, melaporkan. Saksi melarikan diri.

Laki-laki itu geleng kepala. Pembohong, kekuasaan memang duplikat kebohongan. 
Dan untuk itu, yang berpangkat paling rendah pun, dipaksa berbohong.
Tiga orang kawannya pernah jumpa dengan ayahnya. di Markas itu, di Markas tentara Komando Daerah. Lumpuh, disiksa. 
Tak mungkin mampu melarikan diri. 
Apalagi cerita mereka, ketiga kawannya itu. Ayahnya dikurung dilantai atas, Markas tentara, yang dijaga serdadunya. Bersenjata bedil. Dan dibulan kedua, diawal tahun itu. 
Tak seorangpun lagi, yang pernah jumpa dengan ayahnya.   

Dari Wisma Prajurit terdengar pembacaan putusan Hakim. 
Hakim Mahkamah, mengetuk palu. Mati.
Ayahnya dieksekusi mati, tanpa ketukan palu.
Tanpa putusan Mahkamah.    
Medan, tengah 1966. 

Di Asahan 
(ketika kemanusiaan bermakna menghakimi)

Anak rakit di sungai Asahan.
Menyusu di jenazah bunda.
Terapung ke kuala, dibawa arus. Terayun-ayun kembali kehulu. Dan hilang ditelan ombak.
Dibiarkan.

Asahan, 1966. 

Keujung  paluh

Menebar jala, memasang lukah,
mengharap tetap tegar.
Mengayuh dayung keujung paluh,
diakar melingkar dapat tangkapan kepiting inipun sudah terbilang.

Ombak angin tenggara,
membuat nyaman berteduh dipaluh, dirimbun bakau.
Menabur umpan berharap bisa mengena Sembilang, maupun Belanak 
Yang sedang musim bertelur, mengikut pasang kehulu.

Kuala Serapuh, Februari 1967

Miang  jelatang

Gatal bukan kepalang, gatal sampai ketulang.
Jelas, pembuat ulah miang jelatang.

Mengapa batang tumbang harus ditebang?
Agaknya, agar jalan tak terhalang?
Atau ingin berladang ditengah ilalang.

Helvetia, April 1967 
        
Merekat pancang

Pancang itu bagiku adalah panji-panji, 
janjiku hari ini dan nanti.
Pancang itu bagiku adalah garis demarkasi,
juga senandungku menapak matahari.

Medan, Mei 1967

Negeri penuh segala limpah

Di beting diujung kuala, 
dibatas golak ombak pasang dan air sungai.
Pulau pasir ini akan tenggelam.

Aku siap beranjak,
mengayuh naik kedarat.
Dinegeri penuh segala limpah,
limpah yang hanya untuk mereka.

Kuala Serapuh, juni 1967

Dan diapun melangkah

Inilah yang dia ingatkan: Ini bukan masalah menempatkan diri. 
Ini masalah pendirian, tak perduli dimana dan seperti apa.
Karena, semua harus menentukan, dimana harus berdiri.
Berhadap-hadapan atau bersebelahan. Tak kan ada yang ditengah.
Menetapkan hati bukan sekedar memilih rasa.
Mencicipi, kalau tak ini, itu, dan itu lagi.

Diingatkannya lagi: Sejak dia memilih jalan. 
Dia tak pernah menempatkan dirinya, seperti siapapun.
Melangkah, terkadang tersandung dan jatuh. Tetap mengangkat muka. Meski, muka penuh lumpur, atau bahkan tahi sekalipun.

Meski harus terseok-seok, namun tak pernah mau bertanya.
Haruskah menempatkan dirinya ditempat yang lain.
Karena, benih seperti apapun bila mampu menyatu dengan tanah tempatnya di semai. Benih itu lebih unggul dari bibit unggul

Lemparan keras batu diair telaga.
Membuat lompatan beberapa kali, mencercah air

Kalau sampaipun diseberang atau terbenam, 
Jangan salahkan batu atau air ditelaga.
Sebab, ingatnya: Hanya sekali, dia menentukan pilihan.
Dan dia melangkah dijalan itu. Terus melangkah.   
  
Medan, Januari 1968

Hitam penuh jelaga

Sudahlah. Aku sudah tahu dari dulu.
Hatimu hitam penuh jelaga.
Jelaga pengkhianatan.

Jalan Gandhi, September 1968 

Dia tak pernah kehilangan cintanya

Empat bulan berikutnya, diapun akhirnya menyusul perempuan, kekasihnya itu. Sesudah dua setengah tahun menjadi orang buruan.  Digenapkan sebagai penghuni kurungan. 
Kurungan bagi orang-orang komunis. Dan orang-orang yang dikomuniskan. 

Empat tahun. Keduanya di gedung yang sama, dihunian yang sama.
Sesekali bersapaan tanpa melihat muka.
Hatinya cemburu, ribuan kali cemburu. 

Kekasihnya pun, dibebaskan, lepas. 
Tak memberitahu.

Bulan berikutnya, laki-laki itu menerima berita.
Perempuan kekasihnya, menikah dengan laki-laki yang juga dibebaskan, dihari, bulan, dan tahun sebelumnya.    

Hatinya perih.
Kekasihnya. Yang dicintainya. Dan yang pernah mengikrarkan sangat mencintainya. Sudah kehilangan semua harapannya. Harapan, sampai kapan harus menunggu. 
Itulah penyebabnya. 
Pematah harapannya.
Meski begitu, laki-laki itu tak kehilangan apa-apa. 
Tak pernah kehilangan cintanya. 

Jalan Gandhi, Juli1972 

Likwidator memilih menjadi apa?

Meski tatapan tak mampu menembus kabut hitam,
kabut pengkhianatan. Meski digelap sel. Keyakinan memastikan kemana arah. Juga 
kemana menentukan jalan.
Keyakinan akan membedakan, siapa dia. Juga
siapa mereka.

Sekarang. Dia, mereka, mencoba 
membentuk halimun. 
Bayang-bayang jalan, yang membelah retak. Menjadi kepingan.

Dengan pongah penuh ketololan. Yang pikun, berlagak bijak. 
Apa yang mereka sebut? Apa yang mereka tahu tentang revolusi?
Adalah komat kamit membaca mantera. 
Mengkaji tahyul-tahyul tentang satria piningit,
atau datangnya sang ratu adil.
Dan membilang jimat-jimat, seperti menghitung biji tasbih.

Mencemooh kesana kemari. Seperti, tak ada kerja batu digalas.
Memberi petitih, membangun negeri bersama. 
Lamunan kosong, ditenggerkan digenggaman 
tangan lawan.
Revolusi bukan sedekah. 
Revolusi bukan didapat dari menengadah tangan. 
Mohon secuil sisa-sisa sepah. Jangan harap. 
Itu takkan pernah ada. 

Sebab, kekuasaan, tak pernah mau melirik sedikitpun. 
Kecuali, kepada anjingnya. 

Para likwidator memilih menjadi apa?

Sukamulia, Februari 1973 

Dan bila sudah berucap sumbang

Sampailah usiamu diujung galah, tentu berakhir terkena getah.
Tak akan sampai dibatas jalan
dan kaupun akan dicampakkan.

Ingat!  Perahu kemudinya diburitan, bukan dihaluan
Haluan cuma menunjukkan kemana arah tujuan
Sedang, dimana harus berlabuh.
Nakhoda yang menentukan.

Sukamulia, Oktober 1973
   
Bah Bolon

Sudah berubah tepian. Tempatnya mandi berenang, memancing ikan
Entah kemana jalan setapak dulu?  Sudah jadi hunian.

Dia mencoba mengingat-ingat.
Entah ada yang masih tetap terlihat seperti dulu. 

Batu besar itu, ancaknya melompat, 
menyelam sampai diseberang.
Tampak masih garang

Pada bekas tepian, tempat nya dulu mandi dan memancing ikan.
Biar tepian berubah. 
Air terus mengalir mengikat arus.
Sampai kemuara menyatu dengan laut

Bahbolon, Januari 1978


Kemana amang, huta dan hauma

Menangislah, ito. Tak usah malu.
Ceritakanlah. 

Mereka paksa, inang dan adik-adik menyaksikan. Mereka ikat amang dipohon tumbang ditepi bondar. Lalu dipukuli.
Katanya amang dan kawan-kawannya pemberontak, anti Pancasila.
   
Dua bulan amang mereka kurung dimarkas tentara dikecamatan. Sesudah itu. Amang, kata mereka dipindahkan. Kepembuangan. Inang mencarinya kemana-kemana. Kesemua markas tentara. 

Akhirnya kami mendapat khabar dari seorang kawan amang. Yang selamat dari pembantaian. Amang sudah mati mereka bunuh, dibawah jembatan Pulo Raja. 

Tahun-tahun berikutnya, huta dan hauma dijadikan kebun sawit. Sebab kata mereka, tanah itu dulunya milik Negara. Diserobot amang dan kawan-kawannya, dijadikan huta dan hauma. 

Tapi mengapa? Yang dia saksikan sekarang, perkebunan itu milik Swasta. Milik orang asing..
 
Dia tengadah, seperti menantang langit. Menghentakkan kaki, seperti membangunkan bumi. Berteriak. Meraung. “Yang kuasa atas bumi dan langit, inikah yang Kau sebut keadilan”. 

Labuhan Batu, Agustus 1978.

Menunggu hujan reda

Berteduh dikaki lima toko, menunggu hujan reda. Ingat pelepah pisang. Ingat bermain kuda-kudaan. Ingat bermain perang-perangan. Ingat masa itu dipengungsian.

Seorang laki-laki muda kekar, ditendangi. Roboh. Dipopor senjata panjang serdadu Belanda. Ekstrimis, mata-mata grilya. 
Sumpah serapah mereka.

II

Berteduh dikaki lima toko, menunggu hujan reda. Ingat laki-laki muda kekar itu. Aku pernah bersamanya. Disekap sekamar dipenghujung tahun enam puluh enam, di Markas Polisi Tentara.

Sebulan bersamanya, laki-laki kekar itu dibawa keluar. Perintah pindah. Sejak itu tak pernah ada khabarnya lagi. Tak ada yang pernah jumpa.

Hujan reda.
Pelepah pisang takkan pernah lagi terlihat dikota.      

Medan, Maret 1979. 

Tentara di negeri ini

Bukan semusim. Entah sudah berapa musim.
Ketika tentara penentu. Kapan menyemai, kapan menanam,  
kapan pula menuai.

Bandar Siantar, Simalungun 1982

oh

Ingat decak mulut, ingat memancing belut.
Mudah ditirukan, sulit dituliskan.
Gampang terucap

Tak apalah. Lidah takkan patah.
Walau, ribuan kali berbuat latah

Dosa politik, dosa keturunan.
Begitulah kata orang-orang

Lubuk Pakam, juli 1987 

Ketika sipemakai sepatu larsa itu berkuasa

Sudah kusaksikan ditahun-tahun awal. Mula dari pemakai sepatu  larsa itu berkuasa. Mereka membunuh, menjarah dan memperkosa. 

Letakkan tanganmu dikepalaku, Ito. Aku akan mengatakan apa yang sebenar-benarnya. Sungguh bagaimana tidak.

Meski ada yang membantah. Yang dipihak sana lain.

Apa lainnya? Pemakai sepatu larsa harus tunduk pada atasannya. Dan atasannya lagi. Atasannya itu. Ya, satu.
Memaksa tunduk pada maunya. Dan membunuh dengan bedilnya.

Mana ada demokrasi, selain demokrasinya. Mana ada kuasa, 
orang lain bicara, selain bicaranya.

Mereka tak punya telinga, kecuali mendengarkan jenderalnya.
Karena sudah kusaksikan, awal dari para jenderal-jenderal itu merampas kuasa. Merampas merdeka.
Membunuh, menjarah dan memperkosa. 
Letakkan tanganmu dikepalaku , Ito. Inilah pengakuanku.

Medan, Agustus 1987.       

Uh

Bukan karena tuah, atau benda pusaka.
Bukan pula karena tulah, atau karena jembalang.
Diujung jembatan. Dibawah bukit datar,
ditundukkannya kepalanya tanpa aba-aba.

Jenderal-jenderal itu, masih berkuasa  

Sinaksak, Siantar Agustus 1990

Tias itu tanda pemberani

Tias itu torehan sangkur
Tias itu bukanlah cacat. 
Kau anak laki-laki dan anak perempuan pemberani.
Menuntut hak yang hakiki. Demokrasi.

Jakarta, Nopember 1997.

Bingkai dan keyakinan

Bingkai yang menjadi keyakinannya,
hari ini dan hari esok.
Adalah bingkai rekat, menolak tunduk.
Dan akan melangkah, terus melangkah.
Merebut demokrasi, melawan diskriminasi.

Medan, 17 Februari 1999  

Laut yang tak bertepi

Menggelar teratak, tanda perhelatan belum dimulai.
Mengorak teratak, tanda perhelatan sudah usai.
Mengarak rebana, mengiring randai.
 Kerja belum selesai

Dipantai pandan, ditepian barat.
Dilautan Hindia.
Ketika sauh dilabuh, dipundak menghimpit.
Kapan jalan panjang ini berujung?
Kapan jalan panjang ini bertepi?
   
Diantara kaki langit, ujung pelangi terputus.
Diantara muara dibatas sungai,
ujung laut tak bertepi.
Bergerak satu menyusun alun, tak terlepaskan bersama pasang.

Sibolga, 23 mei 1999  


Anak laut, hempaskan takut 

Berlabuh diujung tanjung, membongkar sauh,
menyisip jaring. Belum pasti entah kapan, 
berlayar lagi.

Sudah dua purnama, jamu laut dihampar.
Jamaknya memanjatkan permohonan, berharap mendapat keselamatan. Berharap agar bala dijauhkan.

Ada yang diharap, ada yang dinanti.
Sesekali agak menyesali diri,
mengapa lahir menjadi anak laut? Mengapa ada rasa takut?
Kata orang, lepas takut datang berani. Bagaimana kalau berani, menghantar mati? Apa bedanya?
Anak laut bila tak siap menantang badai. Jangan menjadi anak laut. 
Jadilah anak muara pengais kepah.

Bila basah, basahlah dilaut. Bila mati. Matilah,
 jangan karena takut.
Jangan pernah perdulikan; Dosa bayi yang masih dirahim bunda
Ketika ayah dibunuh didarat, lalu terkubur dilaut.

Diujung tanjung berlabuh, membongkar sauh.
Meski harus menantang badai. Diujung purnama berlayar lagi

Anak laut hidupnya adalah laut. Laut dan kulik elang memanggilnya. Untuk berani. Untuk berbuat dan berlawan 
Menatap hari depan dengan kepala tegak, sebagai anak zaman.

Labuhan Deli, agustus 1999     

Kolusi petinggi

Naïf, bila menampik pemberian.
Tak baik menolak.
Entahkan saja didapat dari mana atau bagaimana.

Yang menerima, yang tidak, sama saja.
Percuma tak ada beda.
Sipenerima tetap juga jadi petinggi negara

Medan, awal 2000

Langkah yang tertatih-tatih

Langkah tertatih-tatih,
akhirnya tak merangkak lagi
Biarkan ada yang berang, 
pastikan sampai diseberang

Medan, Mei 2000.. 


Setelah tiga puluh lima tahun

Awalnya ada minoritas kaum, dialah pemilik-modal. Selebihnya mayoritas kaum, dialah budak upahan. Dan pada Satu Mei 1890, laki-laki, perempuan dan anak-anak kaum pekerja itu bersatu. Bangkit berlawan menyerukan: “Kaum buruh disemua negeri bersatulah”. Dan mereka menang.

Akhirnya hari ini, dia diikutkan dibarisan panjang ribuan pekerja muda. Mengangkat tinju kiri tinggi-tinggi. Setelah tiga puluh lima tahun, Satu Mei dipasung rezim junta militer. Haknya diabaikan, 
dan dirampas. 
Bukankah Satu Mei, warisan universal kaum buruh internasional?
Padu dalam kebebasan berserikat.

Medan, 1 Mei 2000.  
 
Ketika pola berubah

Sesudah melewati ujung bukit batas,
batu berlumut. Langkah seolah-olah mencapai keseimbangan. 
Polapun berubah.

Seperti naga perkasa yang terluka.
Tak terfikir lagi pernah jatuh. Pernah terjerembab.
Tanah ini milikmu, tanah ini hidupmu.
Dirampas.
Jadikan milikmu lagi, Jadikan tanahmu lagi.
Hidupmu

Labuhan Batu, Juni 2000. 


Pertemuan menepis stigma

Kehangatan sebuah pertemuan, 
seperti berkumpulnya sebuah keluarga.
Menepis stigma, yang membuat keraguan akan hari esok.

Dan diantara anak-anak yang bertahan hidup. 
Kau bergabung bersama kami. Memupus sisa imbas 
masa lalu

Pelangi 17, Juni 2000


Rembug itu memilah, bukan hanya memilih

Bila harus memilih. Ada yang terpilih. Ada yang disingkirkan. Lalu ada yang dipojokkan. Dan lumrah ada yang munafik.
Melampiaskan keinginannya, seia menepuk dada.
Saling mencakar, saling menjatuhkan. Mencibir, 
memahat intrik.
Mengukir faksi, 

Menghafal kesalahan diantara dia yang seiring.

Rembug, bukan rujuk.
Rembug bukan hanya untuk memilih.
Bukan pula untuk menghakimi.

Rembug untuk memilah. Semua terbilang
Mengakar pada kearifan massa. Mengulang kajian, membagi kerja.
Tak ada yang ditinggal, seia semua.
menapak kaki langit, mendaki mentari

Medan, akhir Juli 2000   


Rindunya pada pelangi

Inilah bincang-bincang, perempuan muda itu. Tentang masa lalunya
Tentang rindunya yang sangat pada pelangi.
Pada kabut dikaki gunung
Pada puncak bukit. 
Dimana dia dilahirkan dan besar bersama lumpur dikaki.

Rindunya pada padang ilalang.
Pada bunga-bunga liar, 
disepanjang tepi parit yang mengalirkan air sejuk sepanjang tahun.
Yang membasahi setiap petak sawah desanya.

Matahari, 
dan bentangan langit biru. Orang-orang, 
para kerabatnya yang setiap saat memberikan perhatian

Sesudah itu. Sejak bulan-bulan diakhir tahun itu dan tahun-tahun seterusnya. Cuma membekas dimimpinya
Simalungun, Agustus 2000. 
  

Penghuni  tualang, makluk bunian 

Inilah ceritanya, tentang dongeng pohon tualang yang menakutkan.
Tentang para makhluk bunian menabuh bunyi-bunyian, berdendang
memikat, menyelinap. Lalu mengunpulkan anak-anak nakal, 
ditiap dahan. Dijadikan makhluk pengikut, paling penurut.
Diajari pembuai mimpi, pemuai rekat yang tak pernah jadi.

Katanya ketika dia masih kanak-kanak.
Dongeng usang ini pernah bersentuhan. Dipatahkannya.
Patah arang.
Dibantahnya.

Dia, memang anak nakal. 
Tak pernah percaya, pada tutur dusta ini. 
Dia ada, bukan maunya siapa-siapa.  

Tebing Tinggi, September 2000


Akhirnya terbaca juga

Anak bincacak anak bincacau, 
kutu pindahan dan tukang kacau.
Siapa yang kutu pindahan? Siapa yang tukang kacau?

Siapa yang menyulut? Siapa yang membuat ribut?
Akhirnya terbaca juga.
Sudah jelas yang tersurat, maupun yang tersirat.
Ludah dikaki pun terjilat.

Medan, Juni 2001


Pemilu, cuma memilih loyang

Kalau memilih, tentu yang jadi pilihan: 
Yang mana emas? Yang mana Loyang?

Bangsat! Bagaimana aku tak berang?
Kau suruh memilih. Yang ini loyang 
Yang itu juga loyang. 

Medan, Juli 2001


Bohong itu dusta

Mencoba menampik kebenaran. Menghalau kenyataan
Sia-sia menyebut atas nama Yang Maha Kuasa 
Nafasmu bau karena berbohong.

Medan, September 2001


Teve

Film pemberontakan G30S-PKI,
di televisi.
Anakku bilang. 
Tak lagi diputar ulang.

Medan, 1 Oktober 2001


Layang-layang putus

Sampaikah beritaku, dari bonani pasogit? 
Bahwa usia kita,
bertambah lagi. 
Ingin mengundang kalian ber-ulang tahun, bersama. Dirumah.
Entah bisa entah tidak. Nanti. Kapan-kapan.  

Layang-layang putus di negeri orang.
Berharap pulang, 
jangan bertopang dibahu orang. Apalagi dibahu lawan.

Medan, Oktober 2001


Pengasah belati, penghias melati

Katanya, ada yang bilang. 
Bila bulan penuh bergantung diatas hutan diutara.
Awas! Makhluk jembalang akan menyelinap kedalam bilikmu. 
Tak akan mengetuk pintu

Dan yang bilang, mengabarkan. Bahwa pengikutnya, 
telah memasang gelang ditangan. Benang tiga warna, 
dan bertengger diritual penolak bala

Ohoi, kuda belang, kuda beban.
Memanggul sarat, air dari seberang
Pengasah belati, penghias melati, menanti terbitnya sang mentari.

Bila bulan terlena, masih bergantung dihutan utara. 
Bercumbulah dengannya. Sebentar lagi, mentari fajar segera menenggelamkan malam. 
Paginya, bulan menyuruk dikolong gua kelelawar. 
Mimpimupun hilang, dibawa terbang burung pelatuk. 
Jadi benalu

Medan, 1 Nopember 2001     


Yang diucapkannya Cuma                          ”terimakasih”

Dia berdiri didepan. Tak diminta. 
Terimakasih! Ucapnya. Dan dia duduk lagi, ditempatnya tadi.

Katanya. Dia sebenarnya ingin mengangkat
tinju kirinya, 
sambil meneriakkan – “Bebas”!
Tapi dia khawatir, di kira ingin orasi dan 
lepas kendali.
Atau lebih dari itu.
Dituduh ingin memprovokasi. Tak jadilah. 

Dia tak siap disebut seburuk itu.
Juga tak mau disebut dungu. Seperti mereka 
yang diminta bicara, lebih dulu. 

Kartini, 28 Desenber 2001


Yang menjadi pilihan

Sederhana. Sangat sederhana penuturannya. 
Menampi. Yang bernas tertinggal. Yang lainnya terbuang.
Mengayak semua terpakai. 
Masalahnya mana yang menjadi pilihan.

Apakah harus ditampi atau harus diayak?
   
Medan, tengah Januari 2002.


Kawan

Diburitan,
bukan ditinggalkan.

Selat Malaka, Februari 2002


Penjilat itu murtad

Kalau soal cakap. Kau hebat.

Sudah kuperkirakan. Kau terbungkuk-bungkuk,
Berebutan mengulurkan tangan. Berharap bersalaman dengan dia, yang dekat kekuasaan
O. Yang penjilat. Yang murtad. Yang belah bambu.
Yang bermulut manis. 
Yang melecehkan kebawah.

Seolah kau bisa segala.
Tak tahu malu

Dulu, kau berdiri didepan,
menghantam kekiri, menghantam kekanan. Besar kepala.
--“Lenyapkan adat yang lapuk”—

Apa katamu sekarang,--“Inikan cuma taktik, 
bagaimana gendangnya begitu pula tarinya”—
Lagi kau berbohong. Tak ada yang menabuh gendang. 
Lagakmu, yang mau menari.
Dan aku tambah mengenali siapa kau dan siapa yang lain.

Jakarta, Cempaka Putih 2002               

Bukan hanya bengal, tapi bebal 

Digedung itu. Lidah dan ludah pun berbusa, dan
rakyatpun dipersilahkan menonton jadi pemirsa. Lewat
televisi, lewat radio, lewat koran-koran

Hutangpun terus bertambah. Hutang yang harus dibayar beserta riba.
Uh. Nasib negeri yang sudah tergadai.

Lebih memalukan lagi. Diantara orang-orang yang pernah dituduh bersebahat. Diantara orang-orang yang sampai hari ini terus terbilang, terlarang. Untuk semua kedudukan, dan bermacam-macam pekerjaan. Ada yang sepakat Tak tahu diri. Tak pernah jera.
Padahal keledaipun tak mau terperosok diselokan yang sama.
Kusangka dulunya hanya bengal, ternyata terlanjur bebal.

Mari kita mempertahankan mati-matian. Kokoknya.“Persatuan dan kesatuan”. Bakulan rezim Suharto itupun, ikut-ikutan dijajakan. Kemana-mana. Dan diapun mengajak melupakan: 
Kala, sampai keujung empat penjuru negeri ini. Berondongan peluru senapang tentara membunuhi, anak-anak, orang tua, laki-laki dan perempuan-perempuan yang tak pernah menyandang bedil. Ditembaki. 

Kutarah tak tertarah, akhirnya kutebas. Kutegahpun tak tertegah, akhirnya marahku kulepas. Menghardik, meninggalkannya
sembari menyerapah: Dasar tengik, budak bengal dan bebal.

Medan, Maret 2002


Ada luka dipelipisnya

Luka dipelipismu, tiga puluh empat tahun yang lalu. Bagaimana aku bisa melupakannya. Sebab pundakku sampai hari ini masih meninggalkan ngilu. 
Terasa nyeri bila musim penghujan

Jalan Gandhi, Agustus 2002   


Alunkan senandungmu, Ito 

Hari itu, seorang kawan menyapaku.
Aku, dia, saling jabat tangan, saling rangkul. Kemudian ada dialog,
“lupa?” Kujawab tidak, dan tak akan pernah lupa.
Namaku proletariat, katanya, “ya”.
Ada lagi yang menegurku, seorang kawan. Perempuan muda.
Hari itu, juga ditempat itu. “Bacakan sajakmu, bung, sajak perlawanan”. Aku mengangguk mengiyakan

Kubalas balik mengajaknya: “Alunkan senandungmu, Ito”
Senandung kaumku. Senandung tentang perlawanan, terhadap kelaliman. Senandung perlawanan, terhadap kesewenangan dari kekuasaan. Senandung tentang menapak matahari
Senandung tentang merekat hari esok
Lantunkanlah, Ito. Senandung tanah ini.
Tanah dimana perempuan-perempuan, melahirkan para pahlawan.
Tanah dimana perempuan-perempuan melahirkan para pejuang. Dan
tanah yang pernah bersimbah darah.

Tanah ini pulalah yang mendulang bintang-bintang dibahu 
para jenderal. Ditanah ini pulalah jenderal-jenderal mendulang kuasa. Mendulang segala. 

Oi, senandung itu, Ito. Jadikan hentakan.
Hentakan, seperti jeritanmu pertama kali, menandakan kelahiranmu.
Yang ketika itu pulalah amang, dibenam terkubur dengan kawan-kawannya yang lain. Satu liang dipangkal paluh, 
dijajaran rumpun nipah. Dibunuh.

Sudah kusaksikan, Ito. Dimula dari awal kuasa para pembantai.Kaumku diusir dari tanah miliknya.
Ditangkapi, dibedil dan mati.
Dicemoohkan, dinista paling hina.

Cemooh yang disandangkan ke-keturunannya dan 
ke-keturunannya lagi.

Dan aku sudah bersumpah. Dengan bait-bait sajak ini. Sudah kugariskan demarkasi, sepanjang seluruh hidupku. Bahwa aku akan melawan, disetiap nafas yang kuhembuskan.
Meski sebilang apapun bintang-bintang dipundaknya.
Meski sebilang apapun tanda jasa didadanya.

Ito. Hentakkan kakimu
Tingkahi rempak rebanamu. Lepaskan marahmu,
bahanakan randaimu. Tentang laut
Satu mengarak ombak. Satu melepas badai.
Rekat bergerak.. 

Medan, September 2002
 

Jumpa dan tertawa lepas

Bilur-bilur, lebam, patah tangan. Dipaksa, 
mengakui, dia mengenal aku. Juga aku mengenalnya.
Sesudah waktu lama sekali, bertahun-tahun. Disini 
kami jumpa lagi. Berpelukan tertawa ramai.
Tertawa lepas.

Medan, Nopember 2002.  


Cinta itu, tetap menjadi miliknya

Lama. Entah sudah berapa tahun, keinginannya itu. 
Keinginannya, setelah dia dibebaskan dari kurungan. 
Kurungan politik kata orang-orang. Kapan bisa jumpa dengan perempuan yang dicintainya itu.   

Barulah. Dipertemuan tahunan kedua. Sejak mundurnya Soeharto.
Lima ratusan lebih yang berkumpul, yang disatukan oleh pengucilan, dan yang bertahan hidup.
Limaratusan lebih yang ada diruangan itu. Termasuk perempuan yang pernah menjadi kekasihnya dulu.

Bertahun-tahun rindunya menunggu. 
Dikeramaian. Laki-laki itu mengajak, perempuan yang dicintainya itu berdua melantunkan lagu.

“Nasonang do hita nadua, saleleng ahu rap dohot to”  
-- Alangkah bahagianya dihari-hari kita berdua selama bersama. 

Ketika jumpa lagi dipertemuan lain.
Diantara kawan-kawannya, ada yang mengingatkan. Jangan dekati! Dia bersama suaminya. Suami perempuan yang dicintainya itu. 
Pecemburu.

Laki-laki itu senyum, maklum.
Karena, sampai hari inipun dia masih tetap memiliki cintanya.

Medan, Desember 2002


Ulong Jantan, si sulung anak lelaki

Aku jumpa dengannya.
Dia, si Ulong Jantan.
Yang lahir dan besar bersama asinnya laut, 
menuturkan tentang dulu.

Ketika itu,
menunggu lepas kemarau.
Angin laut mengulang tagih.
Kapan meneduh ombak,
kapan meneduh badai.

--“Biasanya dari pulau yang ditenggara, datang beriring
perahu-perahu pemukat merentang jaring”—

Pada musim ini, dibulan akhir tahun itu.
Ombak teduh, badaipun teduh.
Iring-iringan perahu tak pernah sampai disini.

Siapa-siapa cerita.
Tentang ada berita.
Ada pemberontakan di Jakarta,
partai komunis kudeta.

Siapa saja yang di komunis kan pun dilaknatkan.
Dicari sampai keseluruh negeri
dibunuh, ditangkapi. Dikurung dimarkas tentara

Bertahun-tahun sesudahnya. Orang-orang terus dipaksa, 
untuk tidak pernah melupakan. 
Kuajak abahku meminang seorang perawan, dipulau yang ditenggara. Dan sekarang menjadi biniku

Banyak yang tak se-iya.
Malah ada juga yang mencibir.
--“Seperti tak ada, anak perawan lain.
Mengapa mesti dia? 
Anak perawan, yang abahnya mati dibunuh.
Dibedil.
Dikubur bersama belasan orang satu liang,
yang di dikomunis kan”.

--“Mengapa orang lain yang keberatan.
Aku yang berbini”--  

--“Dan yang kutahu.
Tak ada sangkut paut abah biniku
dengan para jenderal yang mati dibunuh tentaranya sendiri.
Kapan pula abah biniku punya tentara”--

--“Sebelum bulan purnama tahun-tahun kemudian,
dipasang besar.
Ketika orang-orang mempersoalkan, 
“bersih diri, bersih lingkungan”
Anak pertamaku lahir.
Laki-laki
Kata orang se-perkasa si-nelayan, atoknya.
Abah biniku.
Juga selembut hatinya, meneduhkan”--

Menunggu lepas kemarau, diakhir tahun ini.
Laut terus menyusun pasang,
menyusun janji. Tak henti,
tetap satu menyusun gerak kebebasan.
Kujabat tangannya, kurangkul hatinya.   
 
Kuala Langkat, Desember 2002
 

Merah mentari subuh, dicelah rimbun rumpun bambu

Lepas tengah hari, di hauma. Menunggu matahari condong kebarat.
Berteduh disopo-sopo melahap penganan.

--“Horja pernikahanku ditunda saja, amang,
sampai panen mendatang”--
Si Sulung mengusul, melihat orang tua itu murung.
--“Tidak amang, kuliahku saja yang ditunda sampai tahun depan
masih bisa dilanjutkan”— Si Bungsu bermaksud mengalah.
--“Apa-apaan kalian, aku bukan memikirkan itu”--
--“Mengapa amang sedari pagi, apa yang terjadi?”

Bertahun-tahun jembatan dihilir tak pernah dilintasinya.
Lepas subuh tadi diatas jembatan,
dia bicara seolah tak sendiri.

--“Bulan kedepan
dipertengahan tahun.
Si Sulung pahoppumu akan menikah, amang. 
Dengan boruni tulangnya.
Paribannya”--

--“Pahoppumu, Si Bungsu,
sudah kuliah diperguruan tinggi.
Sekiranya amang ada diantara kami”--

Warna merah bayang-bayang mentari subuh,
menembus diantara rimbun rumpun bambu.
Menabur kilau dipermukaan air.

--“Kemarin di satu mei,
di hari raya kaum pekerja dilima benua.
Pahoppumu Si Bungsu ikut menyatu,
bersama-sama mengepalkan tinju.
Tumpah ruah dari pabrik-pabrik, dari perkebunan-perkebunan.
Berbaris panjang,
memenuhi jalan. 
Bersenandung. 
Senandung kebebasan.
--“Dan internasionale pastilah didunia”’

Dan hari ini, di Mei dua puluh tiga.
Laksaan hati berusaha tegar.
Meski haru,
menyerusuk. Menyesak.

Bandar Betsyi, Mei 2003


Dari  rentang waktu kewaktu

Kuucapkan selamat tinggal dan kusampaikan hormatku,
kepada kalian semua. Yang di hari-hari singkat itu kujumpai
disepanjang rentang waktu.

Telah demikian banyak cerita yang kudengar. 

Laki-laki yang kakinya dirantai kerja paksa, dibukit hitam tambang batubara. Diladang pembantaian kolonial. Ombilin

Juga cerita dari Situjuh.
Ratusan laki-laki yang tak mau berkhianat pada proklamasi.
Yang tegak tak mau tunduk. 
Mati ditembaki anak-anak negerinya sendiri.

Bertahun-tahun sesudah dipukul jatuh. 
Dan ketika bangkit lagi. Kembali melangkah,
membenahi barisan panjang.
Menghitung kelipatan dari kelipatan.
Sembari terus berilusi, tentang jalan damai yang ditempuh.
Membuat teror itu datang mengulang petaka.

Dimana-mana. Sampai disini.
Dinegeri mukim para pahlawan ini, mukim para pejuang.
Laki-laki dan perempuan di tahun-tahun itu, diburu tentara sampai kehutan-hutan. Dipenjarakan atau dibunuh

Disini kujumpai kalian, perempuan-perempuan yang teguh. 
Tegak tak tergoyahkan. Keyakinanlah yang menyatukan kita, 
diantara rentang waktu dalam kerja.

Sawah Lunto, agustus 2003


Tutur itu, lentur

Pancang lentur, 
takkan hanyut.

Labuhan Deli, Oktober 2003


Jumpa itu bukan hanya pelepas rindu

Jumpa tahun lalu,
 jumpa melepas rindu.
Jumpa tahun ini,
 jumpa hati merekat hati.

Halilintar, Desember 2003


Maklumat negeri yang sudah tergadai 

Sebuah maklumatpun diumumkan atas nama undang-undang,
bahwa untuk kematian warga asing. Di Nusa Damai.
Di kembaran Jazirah Sorga. Kekuasaan perlu mendua muka, memicingkan mata.

Disini, dibumi Bali. 
Awal-awalnya, teror itu juga pernah terjadi.
Laksaan warganya mati, dieksekusi tentara dan sipil. Tak ada, hentakan palu hakim dipengadilan.

Meskipun  begitu. Pulau sorga ini tetap digelar Nusa yang santun.
Nusa yang rukun.

Pulau Firdaus. 
Dimana para putri-penari melenggak-lenggok, 
dengan untaian bunga ditangan.
Dan mata yang bundar mengerling Dewata. Yang ter-“ingkarnasi”, lewat berkah para pelancong.

O, Nusa Pesona. Pulau mukim para Dewata
Namun kala sampai saatnya, ada yang meledakkan bom. 
Di Legian, Kuta. Kekuasaanpun mulai berbilang-bilang, 
berapa devisa yang akan hilang. 

Itulah sebabnya kekuasaan memerlukan sebuah maklumat.
Atasnama undang-undang, sebagai tumbal kedaulatan. 
Yang sudah tergadai di kelima benua.
Sebagai upeti tanda tunduk, negeri ini.
Negeri yang melimpahkan hutang dollar milyard laksa.
O, Nusa Damai. 
Nusa pembantaian yang disembunyikan. 

Medan, dua tahun Perpu Anti Teroris, Oktober 2004.


Budak pemimpi, tak tahu diri

Belum jera-jera juga kau yang dipariakan?
Kau bangun partai klas kambing. Yang hanya dibolehkan memilih, siapa yang berhak menindasmu, sepanjang lima tahun kedepan. Dan kedepannya lagi

Sampai matipun kau tak pernah mau menyadari. Budak pemimpi, budak yang tak tahu diri.

Medan, November 2004.

Diakhir hari tahun ini

Lengkaplah sudah hitungan. Sampailah pada balik merentang bilangan, dari mula kembali

Melepas beban tak mungkin. Karena, 
kapanpun kerja ini tak pernah ada kesudahannya. Biar, seperti apapun lengkapnya bagian dari yang sudah diurai.
Tetap menjadi lingkup lingkaran, yang melebar.
Seperti spiral. 
Yang harus diurai lagi. 
Tak kan pernah berujung

Medan, 31 Desember 2004

  
Padamu negeri, padamu para petinggi

Selamat datang tahun dua ribu lima.
Selamat tinggal tahun dua ribu empat

Ada bunga api.
Ada terompet berbunyi.
Ada petuah para petinggi.

Hanya itu saja? Tidak!
Masih banyak koruptor lepas.
Masih banyak yang bisa dijual. 
Masih banyak yang bisa digadai, sebagai jaminan pembayar hutang.
Sampai punah seluruh asset negeri

1 Januari 2005

Duh

Sampai hari ini pun. Para petinggi negara, bilang.
Mari hidup sederhana. 
Mari hidup hemat. Hemat ini, hemat itu, hemat segalanya.
Bagaimana dengan mereka?

Dan dilangitpun bulan tertawa hiba

14 Januari 2005


Negeri budak global, yang mahripah log jinawi

Buah dari pohon limpahan uang, adalah: 
Limpahan barang, limpahan pasar. Berujung menjadi bencana

Dan bencana itu, 
takkan pernah mendapatkan jalan lepas. Selain, 
menambah bencana baru.

Dan negeri ini. Negeri yang digelari: 
Negeri limpahan”gemah ripah log jinawi”.
Tak lain negeri limpahan hutang. Buah dari pohon, 
membudak pada pemilik modal global.

Polusi dan kemelaratan. Sama berbaur, 
menghimpit ditiap tarikan nafas kaumku. Dan, yang mencoba tak sepaham. Kekuasaan pun gusar. 

Kekuasaan yang membudak pada pemilik modal global. Yang meniti dibuasnya penindasan terhadap demokrasi. Buasnya pemerkosaan terhadap hak azasi.
Lalu melepas stigma: Awas bahaya laten.

Medan, Februari 2005


Stigma, dinegeri paling ramah 

Sabda raja adalah hukum.
Sudah empat kali kekuasaan berganti, sesudah itu. Dan sabda itu tetap digelar menjadi tatanan.
Stigma

Berbahaya ! Baginya, takkan mendapatkan tempat setara, 
diantara sesama anak bangsa.

Itu kata mereka. Kata yang berkuasa.Yang menjadi pemilik sabda, pemilik hukum.
Awas bahaya laten, tanpa bentuk.
Mereka ada disana. Menyusup kemana-mana. 
Rasa takut yang tak bisa disembunyikan. 
Rasa takut yang terpelihara. Meski negeri ini masih disebut, negeri yang peradabannya paling ramah tamah. Paling mempersona diantara negeri-negeri disemua benua.

Medan, Februari 2005


Rakyat itu

Dia menyebutkan rakyat itu:
Orang yang tergusur, yang tersingkir. Dan yang tertindas.
Rakyat itu juga; Yang pernah dinista paling hina.
Paling dicemoohkan. Cemooh yang disandangkan keketurunannya

Sebab kata kawan yang lain. Dimulai dari awal kekuasaan 
para pembantai. Tentara.
Petani-petani diusir dari tanah miliknya.
Yang sudah dibayarnya dengan darah dan kesengsaraan, kepada kolonial Belanda, tentara pendudukan jepang.
Kerja paksa dan tanam paksa.

Sebab kata kawan yang lain juga.
Pada tahun-tahun berikutnya 
Petani-petani terusir, karena takut di komunis kan.  
Sebab kalau sudah di komunis kan, Berarti, 
hilanglah semua miliknya.
Juga nyawanya.

Padang Halaban,  April 2005  


Invasi AS
       
Rakyat diseluruh negeri marah.
Pergilah keneraka. Perang krisis pemilik modal global.
Yang menggandakan krisis baru. Krisis yang tak akan pernah habis.
Yang tak akan berkesudahan

Medan, Maret 2005

Kaumku
             --- klasku

Selamat hari rayamu, kaumku!
Selamat hari kemenanganmu, klasku! Karena, 
kemenanganmu itu, adalah solidaritas.
Mari sorakkan dan senandungkan:
--- “Kaum buruh diseluruh negeri bersatulah”!

Kaumku, klasku diseluruh negeri pasti menang. Karena, kemenangan itu milikmu.
Karena, seluruh hatimu satu. Panji-panjimu satu.
Benderamu juga satu, merah perkasa.
Tinjumu juga satu.
Langkahmu juga satu, seperti badai. Seperti gelombang

Medan, 1 Mei 2005


Sukamulia, hunian atau rumah duka?

Dia manggut-manggut. Ketika diberitahu bahwa ditempat itu, akan dibangun hotel bintang lima.

Mengingat dilahan itu, pernah ada bangunan kurungan. Dia pernah tinggal, lima tahun disana. Sesudah ditirahkan, 
dari hunian yang ditempatinya,
selama empat setengah tahun, 
dibekas gedung Sekolah Dasar, dijalan Gandhi

Kedua gedung itu, berada ditempat yang berbeda.
Didua kelurahan yang berbeda. Didua kecamatan berbeda, dikota yang sama.

Hunian. Tempat persemayaman, atau rumah duka?
Kapan dikebumikan?
Bisa besok dan bisa lusa. Minggu depan, bulan depan, atau tahun depan. Dan tahun depannya lagi.
Tak pasti. Setidaknya dia sudah pernah,
dimaklumi mati. Disini.

Medan, Mei 2005     


Pesan buat si Bungsu

Sekali jadi
Sudah itu, tak ada lagi

Medan, Perintis Kemerdekaan, 25 Januari 2009 


Menunggu kelahiran Cucu

Aku tak mau bilang, laki-laki atau perempuan, 
sama saja,
Bukankah, dengan menyebutkan itu. sudah tersirat keinginan, meski tak mau memaksakan.

Aku cuma mau mengatakan. Bahwa 
yang lahir hari ini, 
dialah pemilik hari nanti.

Medan, Juli 2009


Si Pembual dan para Petinggi Kekuasaan

Si Pembual bilang kalau tidak ada berada, 
tak tempua 
bersarang rendah.
Dikebun tebu, tempua bersarang rendah? Mengapa 
disemak gelagah, sarang tempua dekat beranda sarang penyengat? 
Apa yang diingatkan sipembual, 
bisa diiyakan bisa ditidakkan.

Para petinggi di diarea kekuasaan, memang bukan si Pembual. Bila menyebut lantang.Tidak! Itu harus diartikan, iya! Bila iya itu harus diartikan tidak. Tidak untuk korupsi! Iya untuk korupsi. Iya untuk keadilan! Tidak untuk keadilan! 

Medan, awal-awal 2011.

Untuk apa menangis, untuk apa 

Begitulah katanya. 
Bila tak mungkin lagi untuk ditangisi.
Mengapa tak di tarikan. Tak ada salahnya bukan? Benar.

Tapi untuk apa menangis. Untuk apa menari.

Tak salah inang melahirkan. Jangan kau sesali lahir sebagai perempuan. Tak ada miang kesialan yang disebutkan si peramal.
Tak ada sial tahi lalat dikuduk, penyebab beban hidup.

Medan, awal 2011.  


Pembantaian itu dibenarkan

Dari istana, ada berita bahwa kekuasaan,
akan minta maaf dan akan memberi keadilan pada mereka 
yang pernah diperlakukan sangat tidak manusiawi
 – ini menurut, komisi yang mengurusi hak-hak kemanusiaan -- . Tapi, benarkah itu dilakukan?

Meski tak pernah tersirat, apa lagi tersurat. Apakah ini yang dimaui mereka? (Yang dinista, hingga tidak diakui rumpun manusia, biarpun tak terbantah adalah anak negeri ini). 

Kenyataan, tak ada peluang untuk itu, di satu Oktober disetiap tahunnya, 
juga tahun ini.  Istana, 
mengumbar kebohongan itu lagi di Lobang Buaya. Entah sampai kapan?

Dan maklumat lain, meski bukan dari Istana, pembantu kekuasaan yang membidangi, politik, hukum dan keamanan berucap. Pembantaian diakhir tahun 1965 itu, dibenarkan. Maka maklumat yang dikeluarkan lembaga kekuasaan dibagian kemanusian itu dipecundangi. (Salahkah aku menyebutkan ini?).

Tidak, tak salah. Sudah jamak dinegeri ini, 
maklumat lembaga kekuasaan yang satu, dibatalkan maklumat lembaga kekuasaan yang lain.

Dan siapapun boleh memilih berpihak pada yang mana. Inilah demokrasi katanya.
Inilah keadilan. Ada yang geleng-geleng kepala di sudut sana. Mereka………….

Begitulah akhirnya, tak ada cela dipembantaian itu
Limaratus ribu sampai tigajuta sudah jadi keharusan dibunuh.  Itulah hukum.

Di Jawa Tengah, seorang panglima tentara lantang menghardik sombong mengancam. Dan
siapa yang berani, mencoba apalagi berbuat. Mati
  
Medan, awal Oktober 2012.



1 komentar:

  1. Kompilasi puisi, mengurai kebiadaban "mereka" atas kaumku.

    BalasHapus